03 Maret 2018

TENTANG WARISAN. Part 13


┏๐ŸŒบ๐Ÿƒ●●━━━━━━━━━━━━┓
                  F A R O I D
┗━━━━━━━━━━━━●●๐ŸŒบ๐Ÿƒ
*TENTANG WARISAN* Part 13
★★★★★♡♡♡※♡♡♡★★★★★
※ http://pramida13.blogspot.com


2. Hadits Abdullah bin ‘Amru yang berbunyi:
ู‚َุงู…َ ุฑَุฌُู„ٌ ูَู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฅِู†َّ ูُู„ุงَู†ًุง ุงุจْู†ِูŠْ ุนَุงู‡َุฑْุชُ ุจِุฃُู…ِّู‡ِ ูِูŠْ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„ุงَ ุฏِุนْูˆَุฉَ ูِูŠ ุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ ุฐَู‡َุจَ ุฃَู…ْุฑُ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ ุงู„ْูˆَู„َุฏُ ู„ِู„ْูِุฑَุงุดِ ูˆَู„ِู„ْุนَุงู‡ِุฑِ ุงู„ْุญَุฌْุฑُ.
_"Seorang berdiri seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sungguh si Fulan ini adalah anak saya, saya telah menzinahi ibunya dizaman Jahiliyah.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallammenjawab: “Tidak ada pengakuan anak dalam islam. Masa jahiliyah sudah hilang. Anak adalah milik suami wanita (al-Firรขsy) dan pezina mendapatkan kerugian."_ [ HR Abu Daud, Kitabutth-Thalรขq Babul-Walad Lil Firรขsy no. 2274 dan dishahihkan al-Albรขni dalam Shahรฎh Sunan Abi Daud dan Shahรฎhul-Jรขmi’ no. 2493]

3. Sabda Nabi:
ู„ุงَ ู…ُุณَุงุนَุงุฉَ ูِู‰ ุงู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ ู…َู†ْ ุณَุงุนَู‰ ูِู‰ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ ูَู‚َุฏْ ู„َุญِู‚َ ุจِุนَุตَุจَุชِู‡ِ ูˆَู…َู†ِ ุงุฏَّุนَู‰ ูˆَู„َุฏًุง ู…ِู†ْ ุบَูŠْุฑِ ุฑِุดْุฏَุฉٍ ูَู„ุงَ ูŠَุฑِุซُ ูˆَู„ุงَ ูŠُูˆุฑَุซُ
_"Tidak ada perzinahan dalam islam, siapa yang berzina di zaman jahiliyah maka dinasabkan kepada kerabat ahli warisnya (Ashabah) dan siapa yang mengklaim anak tanpa bukti, maka tidak mewarisi dan tidak mewariskan"_. [. HR Abu Daud no. 2264 namun hadits ini didhaifkan oleh syaikh al-Albรขni t dalam Dha’รฎful -Jรขmi no. 6310dan Syu’aib al-Arna`uth dalam tahqiq Zรขd al-Ma’รขd 5/382].

4. Hadits Abdullah bin ‘Amru Radhiyallahu anhu yang berbunyi :
ุฅِู†َّ ุงู„ู†َّุจِู‰َّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู‚َุถَู‰ ุฃَู†َّ ูƒُู„َّ ู…ُุณْุชَู„ْุญَู‚ٍ ุงุณْุชُู„ْุญِู‚َ ุจَุนْุฏَ ุฃَุจِูŠู‡ِ ุงู„َّุฐِู‰ ูŠُุฏْุนَู‰ ู„َู‡ُ ุงุฏَّุนَุงู‡ُ ูˆَุฑَุซَุชُู‡ُ ูَู‚َุถَู‰ ุฃَู†َّ ูƒُู„َّ ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู…ِู†ْ ุฃَู…َุฉٍ ูŠَู…ْู„ِูƒُู‡َุง ูŠَูˆْู…َ ุฃَุตَุงุจَู‡َุง ูَู‚َุฏْ ู„َุญِู‚َ ุจِู…َู†ِ ุงุณْุชَู„ْุญَู‚َู‡ُ ูˆَู„َูŠْุณَ ู„َู‡ُ ู…ِู…َّุง ู‚ُุณِู…َ ู‚َุจْู„َู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ِูŠุฑَุงุซِ ุดَู‰ْุกٌ ูˆَู…َุง ุฃَุฏْุฑَูƒَ ู…ِู†ْ ู…ِูŠุฑَุงุซٍ ู„َู…ْ ูŠُู‚ْุณَู…ْ ูَู„َู‡ُ ู†َุตِูŠุจُู‡ُ ูˆَู„ุงَ ูŠُู„ْุญَู‚ُ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ุฃَุจُูˆู‡ُ ุงู„َّุฐِู‰ ูŠُุฏْุนَู‰ ู„َู‡ُ ุฃَู†ْูƒَุฑَู‡ُ ูˆَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ู…ِู†ْ ุฃَู…َุฉٍ ู„َู…ْ ูŠَู…ْู„ِูƒْู‡َุง ุฃَูˆْ ู…ِู†ْ ุญُุฑَّุฉٍ ุนَุงู‡َุฑَ ุจِู‡َุง ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ูŠُู„ْุญَู‚ُ ุจِู‡ِ ูˆَู„ุงَ ูŠَุฑِุซُ ูˆَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ุงู„َّุฐِู‰ ูŠُุฏْุนَู‰ ู„َู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงุฏَّุนَุงู‡ُ ูَู‡ُูˆَ ูˆَู„َุฏُ ุฒِู†ْูŠَุฉٍ ู…ِู†ْ ุญُุฑَّุฉٍ ูƒَุงู†َ ุฃَูˆْ ุฃَู…َุฉٍ.
_;Sungguhnya Nabi ingin memutuskan permasalahan setiap anak yang dinasabkan kepada seseorang setelah (meninggal) bapak yang dinasabkan kepadanya tersebut diakui oleh ahli warisnya. Lalu beliau memutuskan bahwa semua anak yang lahir dari budak yang berstatus miliknya (sang majikan) pada waktu digauli (hubungan suami istri), maka si anak dinasabkan kepada yang meminta penasabannya dan anak tersebut tidak memiliki hak sedikitpun dari warisan dibagikan sebelum (dinasabkan) padanya dan warisan yang belum dibagikan maka ia mendapatkan bagiannya. Tidak dinasabkan (kepada sang bapak) apabila bapak yang dinasabkan tersebut mengingkarinya. Apabila dari budak yang tidak dimilikinya atau dari wanita merdeka yang dizinahinyanya, maka anak tersebut tidak dinasabkan kepadanya dan tidak mewarisi walaupun orang yang dinasabkan tersebut yang mengklaimnya, karena ia anak zina baik dari wanita merdeka atau budak sahaya"_.[ HR Abu Daud no. 2265 dan 2266 dan dihasankan al-Albรขni dalam shahih Sunan Abi Daud dan Syu’aib al-Arna`uth dalam Tahqรฎq Zรขd al-Ma’รขd 5/383].
Ibnu al-Qayyim menyatakan: Hadits ini membantah pendapat Ishaaq dan yang sepakat dengannya.

5. Sabda Nabi  :
ุฃَูŠُّู…َุง ุฑَุฌُู„ٍ ุนَุงู‡َุฑَ ุจِุญُุฑَّุฉٍ ุฃَูˆْ ุฃَู…َุฉٍ ูَุงู„ْูˆَู„َุฏُ ูˆَู„َุฏُ ุฒِู†َุง ، ู„ุงَ ูŠَุฑِุซُ ูˆَู„ุงَ ูŠُูˆْุฑِุซُ
_"Siapa saja yang menzinahi wanita merdeka atau budak sahaya maka anaknya adalah anak zina, tidak mewarisi dan mewariskan."  [. HR At-Tirmidzi, kitab a-Farรข`idh 4/428 dan dishahihkan al-Albรขni dalam Shahรฎh Sunan at-Tirmidzi dan Shahรฎh al-Jรขmi’ no. 2723.].

6. Ibnu Qudรขmah rahimahullah menyampaikan alasannya bahwa anak zina tidak dinasabkan kepada bapaknya apabila tidak diminta penasabannya. Ini menunjukkan bahwa anak itu tidak dianggap anak secara syar’i sehingga tidak dapat dinasabkan kepadanya sama sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

SEPUTAR ZAKAT. Part 66 selesai

┏๐ŸŒบ๐Ÿƒ●●━━━━━━━━━━━━┓                        *F I Q I H* ┗━━━━━━━━━━━━●●๐ŸŒบ๐Ÿƒ *SEPUTAR  ZAKAT* Part 66 selesai ★★★★๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ•‹๐Ÿ’™๐Ÿ’™★★★★ *ุจِุณْู€ู€...