18 Oktober 2017
HADITS TENTANG SHOLAT MEMAKAI SANDAL
┏๐บ๐●●━━━━━━━━━━━━┓
H A D I T S
┗━━━━━━━━━━━━●●๐บ๐┛
_*HADITS TENTANG SHOLAT MEMAKAI SANDAL*_
★★★★★♡♡♡※♡♡♡★★★★★
※ http://pramida13.blogspot.com
● Dari ‘Amr bin Harits Al-Makhzumi radhiallahu’anhu, beliau berkata,
ุฑุฃูุชُ ุฑุณَูู ุงِููู ูุตِّูู ูู ูุนَِููู ู َุฎْุตูู_ุชَِูู
_“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan memakai sepasang sandal yang memiliki mikhshaf”_ (HR. At Tirmidzi dalam Asy Syamail Al Muhammadiyyah no. 76, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtashar Asy Syamail no. 65).
● Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu beliau mengatakan,
ุฑุฃูุช ุฑุณูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุตูู ุญุงููุง ูู ูุชุนูุง
_“Aku pernah melihat Rasulullah shalat dengan tanpa alas kaki dan pernah juga dengan memakai sandal”_ (HR. Abu Daud no.653, Al-Albani dalam Shahih Abu Daud mengatakan hasan shahih).
● Dari Abu Maslamah Sa’id bin Yazid beliau berkata,
ุณุฃูุชُ ุฃูุณَ ุจَู ู ุงٍูู: ุฃูุงู ุงููุจُّู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ُูุตูู ูู َูุนَْููู ูุงู: ูุนู
_“Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘apakah Rasulullah pernah shalat memakai sandai?’ Beliau menjawab, ‘ya’_” (HR. Al-Bukhari no. 386).
● Dari Syaddad bin Aus radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
ุฎุงِูููุง ุงَููููุฏَ ูุฅَّููู ูุง ูุตَُّููู ูู ูุนุงِِููู ููุง ุฎูุงِِููู
_“Selisihilah kaum Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai sandal dan sepatu mereka”_ (HR. Abu Daud no. 652, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).
Setelah membawakan hadits ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,
ููู ูุฏู ุนูู ุดุฑุนูุฉ ุงูุตูุงุฉ ูู ุงููุนุงู
_“Hadits ini menunjukkan disyariatkannya shalat dengan menggunakan sandal”_ (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 9/357).
● Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu,
ุฃَّู ุฑุณَูู ุงَِّููู ุตَّูู ุงَُّููู ุนِููู ูุณَّูู َ ุตَّูู ูุฎَูุนَ َูุนِููู ูุฎูุนَ ุงَّููุงุณُ ูุนุงَُููู ููู َّุง ุงูุตุฑَู ูุงَู: ูู َ ุฎَูุนุชُู ْ ูุนุงَُููู ؟ ูุงููุง: ูุง ุฑุณَูู ุงَِّููู، ุฑุฃููุงَู ุฎَูุนุชَ ูุฎََูุนูุง ูุงَู: ุฅَّู ุฌَุจุฑุฆَูู ุฃุชุงูู ูุฃุฎุจุฑَูู ุฃَّู ุจِِูู ุง ุฎَุจุซًุง ูุฅุฐุง ุฌุงุกَ ุฃุญุฏُُูู ُ ุงูู ุณุฌِุฏَ ِูููููุจ ูุนِููู ููููุธُุฑ ูููู ุง ุฎุจุซٌ؟، ูุฅู ูุฌุฏَ ูููู ุง ุฎุจุซًุง ูููู ุณَุญูู ุง ุจุงูุฃุฑุถِ، ุซู َّ ููุตِّู ูููู ุง
_“Rasulullah ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’_” (HR. Al-Hakim 1/541, Abu Daud no. 650, Ibnu Hibban no. 2185, Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, Al-Albani dalam Shahih Abu Daud menyatakan Shahih).
● Dari Abdullah bin Syikhir radhiallahu’anhu beliau mengatakan,
ุตََّููุชُ ู ุน ุฑุณِูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ، ูุฑุฃَْูุชُู ุชََูุฎَّุนَ ، ูุฏَََูููุง ุจูุนِูู
_“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan aku melihat beliau meludah (ke tanah) lalu menggosok ludahnya (di tanah) dengan sandalnya”_ (HR. Muslim no. 554).
● Dari Abdullah bin Syikhir radhiallahu’anhu beliau mengatakan,
ุฑَุฃَْูุชُ ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ «ُูุตَِّูู ِูู َูุนَِْْููู»
_“Aku melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan menggunakan sepasang sandal”_ (HR. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 1500, Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Ash-Shalah fin Ni’al [hal. 7] mengatakan, “semua perawinya adalah perawi Ash-Shahih”).
● Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu beliau mengatakan,
ููุฏ ุฑุฃููุง ุฑุณَูู ุงَِّููู ุตَّูู ุงَُّููู ุนِููู ูุณَّูู َ ูุตِّูู ูู ุงَّููุนَِููู ูุงูุฎَُِّููู
_“Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan menggunakan sepasang sandal dan sepasang khuf”_ (HR. Ibnu Majah no. 858, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
● Dari kakeknya ‘Amr bin Syu’aib, ia berkata,
ุฑุฃูุชُ ุฑุณَูู ุงَِّููู ุตَّูู ุงَُّููู ุนِููู ูุณَّูู َ ูุตِّูู َูููุชُِู ุนู ูู ِِููู ูุนู ุดู ุงِِูู ، ูุฑุฃูุชُُู ูุตِّูู ุญุงًููุง ูู ُูุชุนًูุง ، ูุฑุฃูุชُُู ูุดุฑَุจُ ูุงุฆู ًุง ููุงุนุฏًุง
“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat lalu setelah selesai berbalik ke sebelah kanan dan pernah juga berbalik ke sebelah kiri, aku pernah melihat beliau shalat tanpa sandal dan pernah juga menggunakan sandal, aku pernah melihat beliau minum sambil berdiri dan pernah juga sambil duduk” (HR. Ahmad 10/119, Ahmad Syakir mengatakan: “sanadnya shahih”).
Dari Abu Aubar Ziyad Al Haritsi, beliau berkata:
ุฃุชู ุฑุฌٌู ุฃุจุง ُูุฑَْูุฑุฉَ ، ููุงَู : ุฃูุชَ ุงَّูุฐู ุชَููู ุงَّููุงุณَ ุฃู ُูุตُّููุง ، ูุนِูููู ูุนุงُُููู ؟ ูุงَู : ูุง ، َِูููู ูุฑุจِّ ูุฐِِู ุงูุญُุฑู ุฉِ ، ููุฏ ุฑุฃูุชُ ุฑุณَูู ุงَِّููู ุตَّูู ุงَُّููู ุนِููู ูุณَّูู َ ูุตِّูู ุฅูู ูุฐุง ุงูู ูุงู ِ ، ูุนِููู َูุนูุงُู ، ูุงูุตุฑََู َُููู ุง ุนِููู ََูููู ุงَّููุจُّู ุตَّูู ุงَُّููู ุนِููู ูุณَّูู َ ุนู ุตูุงู ِ ููู ِ ุงูุฌู ุนุฉِ ، ุฅَّูุง ุฃู ََูููู ูู ุฃَّูุงู ٍ
“Seseorang datang kepada Abu Hurairah radhiallahu’ahu. Orang tersebut berkata, ‘apakah engkau yang melarang orang-orang untuk shalat dengan memakai sandal?’ Abu Hurairah menjawab, ‘tidak, namun demi Allah ini adalah kehormatan. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat di tempat ini dengan memakai sepasang sandal, kemudian beliau selesai shalat dan tetap memakai sandal. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang puasa di hari Jum’at kecuali jika dibarengi dengan hari-hari yang lain’” (HR. Ahmad 16/315, Ahmad Syakir mengatakan, “sanadnya shahih”).
Dan sebagian ulama memaknai bahwa kebolehan shalat memakai sandai ini dalam rangka memberikan rukhshah (kemudahan) yang dilakukan ketika ada kebutuhan.
Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathur Baari (1/494),
َูุงَู ุจู ุจَุทَّุงٍู َُูู ู َุญْู ٌُูู ุนََูู ู َุง ุฅِุฐَุง َูู ْ َُْููู ِِูููู َุง َูุฌَุงุณَุฉٌ ุซُู َّ َِูู ู َِู ุงูุฑُّุฎَุตِ َูู َุง َูุงَู ุจู ุฏَِِููู ุงْูุนِูุฏِ َูุง ู َِู ุงْูู ُุณْุชَุญَุจَّุงุชِ ِูุฃََّู ุฐََِูู َูุง َูุฏْุฎُُู ِูู ุงْูู َุนَْูู ุงْูู َุทُْููุจِ ู َِู ุงูุตََّูุงุฉِ
“Ibnu Bathal menyebutkan bahwa maksud dibolehkannya memakai sandal ini adalah selama tidak ada najis pada sandal tersebut. Dan ini merupakan rukhshah (kemudahan), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al-Ied. Sehingga bukan sesuatu yang mustahab (dianjurkan), karena hal ini tidak termasuk pada hakikat yang dituju dari shalat.”
Dan dalam pengamalan sunnah ini tidak berarti boleh shalat memakai sandal di masjid-masjid yang justru membuat kotor masjid. Namun andaikan ada masjid yang memungkinkan untuk shalat dengan memakai sandal, barulah bisa diterapkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
َِููู َูุฐَุง ุจََูุงٌู ุฃََّู ุตََูุงุชَُูู ْ ِูู ِูุนَุงِِููู ْ، َูุฅَِّู ุฐََِูู َูุงَู ُْููุนَُู ِูู ุงْูู َุณْุฌِุฏِ ุฅุฐَุง َูู ْ َُْููู ُููุทَุฃُ ุจِِูู َุง ุนََูู ู ََูุงุฑِุดَ
“Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa shalat mereka (Nabi dan para sahabat) itu menggunakan sandal. Dan hal ini terkadang dilakukan di masjid selama tidak mengotori kain alas lantai (tiker/karpet)” (Fatawa Al-Kubra, 2/62).
Wallahu'alam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SEPUTAR ZAKAT. Part 66 selesai
┏๐บ๐●●━━━━━━━━━━━━┓ *F I Q I H* ┗━━━━━━━━━━━━●●๐บ๐ *SEPUTAR ZAKAT* Part 66 selesai ★★★★๐๐๐๐๐★★★★ *ุจِุณْูู...
-
┏๐บ๐●●━━━━━━━━━━━━┓ H A D I T S ┗━━━━━━━━━━━━●●๐บ๐┛ *MEMPERBANYAK SHOLAWAT DI HARI JUM'AT DAN MALAM JUM'AT...
-
┏๐บ๐●●━━━━━━━━━━━━┓ F I Q I H ┗━━━━━━━━━━━━●●๐บ๐┛ *KAIDAH - KAIDAH USHUL FIQH* Part 1 ★★★★★♡♡♡※♡♡♡★★★★★ ※ http:...
-
┏๐บ๐●●━━━━━━━━━━━━┓ S H O L A T ┗━━━━━━━━━━━━●●๐บ๐┛ *MEMBACA AYAT DI REKAAT KE 3 DAN 4* Part 1 ★★★★★♡♡♡※♡♡♡★★★★★ ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.