05 Oktober 2017

SEKILAS TENTANG BID'AH


_*SEKILAS TENTANG BID'AH ?*_
★★★★★♡♡♡※♡♡♡★★★★★
※ pramida13.blogspot.com


Bid’ah itu mengada-adakan dalam urusan ibadah, praktik ibadah seperti syarat, rukun, tata cara, dan bacaannya. Jika kita menambah syarat, rukun, tata cara, dan bacaan, itulah bid’ah. Kita harus beribadah persis seperti yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, tanpa menambah atau mengurangi.

Bid’ah diambil dari kata bida’ yaitu al ikhtira ‘, artinya mengadakan sesuatu tanpa adanya contoh sebelumnya, seperti yang dijelaskan dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi: “Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu”.

*Definisi Bid’ah Menurut Ulama*

● Ibnu Taimiyah: bid’ah dalam agama adalah perkara yang dianggap wajib maupun sunnah, namun yang Allah dan rasul-Nya tidak syariatkan.

● Imam Syathibi: bid’ah adalah amalan ibadah dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.

● Ibnu Rajab: bid’ah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Jika perkara-perkara baru tersebut bukan pada syariat, maka bukanlah bidah, walaupun bisa dikatakan bid’ah secara bahasa.

● Imam as-Suyuthi: bid’ah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.

Sabda Rasulullah : _“Kullu bid’atin dhalalah”_, setiap bid’ah itu sesat. “Kullu” artinya tiap-tiap alias semuanya. Sudah tentu mencakupi semua bid’ah pasti sesat.

_“ Sebaik-baik perkataan itu kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”_ (HR. Muslim).

● Istilah  (bid’ah hasanah) itu dari Imam Syafi’i. Ar-Rabbi rahimahullah: “Telah berkata as-Syafi’ie rahimahullahu Ta’ala: perkara-perkara yang diadakan terbagi dua:
1. Apa yang di buat bertentangan dengan al-Kitab (al Qur’an), Sunnah, Ijma atau atsar, maka inilah bid’ah yang sesat.
2.  Apa yang di buat berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari perkara (al Qur’ah, Sunnah, Ijma, dan atu atsar) maka itu perbuatan yang tidak tercela.”
Yang dimaksudkan Imam Syafi’i itu bid’ah dari segi bahasa (lughah), bukan dari segi syara’ atau dalam persoalan agama. ● Imam Syafi’i sendiri menegaskan: _“Apabila kamu temui di dalam Kitabku apa yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka berkatalah (ambil/peganglah) kamu dengan sunnah tersebut dan hendaklah kamu tinggalkan apa yang telah aku katakan.”_

● Pendapat Imam Syafi’i soal bi’dah yang baik itu, berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khothob ketika mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih berjamaah. Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari).

● Menurut para ulama, shalat tarawih ala Umar bukanlah bid’ah secara syariat, karena Rasulullah pun pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam, sehingga yang dimaksudkan “bid’ah yang baik” dari perkataan Umar itu secara bahasa, dan bukan bid’ah secara  syariat.
● Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa ;
 bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

_“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”_  (HR. Muslim, no. 2363).
Dalam hal ini.. perkara yg menyangkut urusan dunia yg sebelumnya belum ada sekarang ada ,itu bukanlah bid'ah.(hp, mobil, dll).

Wallahu'alam.
🌷🌷🌼🌼🌼🕌🌼🌼🌼🌷🌷

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

SEPUTAR ZAKAT. Part 66 selesai

┏🌺🍃●●━━━━━━━━━━━━┓                        *F I Q I H* ┗━━━━━━━━━━━━●●🌺🍃 *SEPUTAR  ZAKAT* Part 66 selesai ★★★★💙💙🕋💙💙★★★★ *بِسْــ...